7/24/2009

Validkah IKE (Intensitas Konsumsi Energi) anda?


Bangunan komersial yang anda huni atau kelola telah selesai diaudit tingkat konsumsi energinya. Kemudian besar konsumsi energi yang didapatkan tersebut dibagi dengan jumlah luas lantai produktif sehingga didapatkan besaran KWh/m2 untuk bangunan. Dapatkah hasil perhitungan ini secara langsung dibandingkan dengan standard IKE untuk menentukan bangunan anda hemat atau boros listrik???

Dapatkah bangunan hotel di Jakarta dan bangunan hotel di Aceh diperbandingkan langsung hasil pengukuran KWh/m2 nya (untuk mencari hotel mana yang paling hemat) ??
Diambil dari buku panduan efisiensi energi di hotel

http://www.pelangi.or.id/

Data konsumsi energi tersebut tidak dapat diperbandingkan secara langsung dan tidak dapat ditarik kesimpulan apapun, karena mungkin terdapat beberapa hal berpengaruh, diantaranya yakni :

  • Bangunan tersebut terletak pada lokasi dengan iklim yang berbeda

  • Bangunan tersebut mengalami tingkat pemaparan (level of exposure) sinar matahari yang berbeda (orientasi arah bangunan)

  • Bangunan tersebut mempunyai waktu operasi yang berbeda.


Untuk memperbandingkan data IKE tersebut maka IKE tersebut harus dinormalisasikan terhadap faktor-faktor diatas atau yang biasa disebut dengan NPI (Normalized Performance Indicator)


  • Sudahkah anda memperhitungkan faktor-faktor tersebut dalam membandingkan IKE??

  • Sudahkah standard acuan nilai IKE mis. dari SNI (yang anda gunakan sebagai pembanding) menjelaskan prosedur untuk mendapatkan NPI?

Nyaman Tidak Harus Boros

Kenyamanan dapat dideskripsikan sebagai kondisi puas secara fisik dan mental. Kepuasan ini ternyata berpengaruh pada banyak hal, salah satunya adalah pada proses pendefinisian suatu kondisi lingkungan dalam ruangan. Pengertian kata ‘nyaman’ telah melalui banyak perubahan yang dramatis, hal ini telah berpengaruh pada cara mengelola lingkungan dalam ruangan serta tingkat konsumsi energi dunia. Ekspektasi masyarakat yang telah terbentuk sekian lama tentang kondisi lingkungan dalam ruangan, serta peralatan penunjang kenyamanan seperti Air Conditioning (AC) , pencahayaan, dan pemanas, telah mengakibatkan tingginya tingkat konsumsi energi dunia.
?Definisi Kantor Yang Nyaman di Siang Hari?

Penting rasanya untuk merumuskan kembali definisi kenyamanan serta memperbaharui tata cara manusia untuk mendapatkan kenyamanan tersebut. Hal ini bertujuan agar dapat tercipta perilaku penggunaan sumberdaya dan energi yang berkelanjutan (sustainable) .

Pengantar : Manajemen Energi Perusahaan

Bidang manajemen energi telah lama sekali beredar, setidaknya saya ketahui ini dari “Energy Management Handbook” yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1942. Buku tersebut ditulis oleh Wayne C. Turner dan Steve Doty sebelum bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Maksud saya mengatakan hal tersebut semata-mata hanya ingin menunjukkan bahwa topik manajemen energi ini merupakan ilmu yang sudah cukup lama berkembang. Kepopuleran dari topik ini dipengaruhi oleh harga energi dunia dan kebutuhan perusahaan-perusahaan untuk menekan pengeluaran energi.

Ditengah krisis global yang melanda bangsa, baik krisis ekonomi yang membayangi, krisis kepercayaan terhadap pemerintah, krisis moral, dan krisis energi (ini nih yang mau dibahas), masih saja kita sebagai bangsa bersikap boros. Kita masih boros mengkonsumsi energi, baik itu dalam bentuk energi listrik ataupun bahan bakar minyak dan gas. Hal ini tidak saja dilakukan oleh para penduduk kota yang lebih senang bermacet-macet membuang bahan bakar dijalan raya, akan tetapi juga dilakukan oleh perusahaan-perusahaan baik dalam proses produksi ataupun dalam pengoperasian gedung perkantoran/komersial.

Manajemen energi bagi sebuah perusahaan setidaknya akan mendatangkan dua buah keuntungan, yakni keuntungan finansial dan keuntungan lingkungan. Manajemen energi dapat membantu terwujudnya short-term survival suatu perusahaan pada saat harga energi mahal ataupun saat energi tidak tersedia karena perusahaan utilitas tidak mampu memenuhi permintaan (pemadaman bergilir). Selain itu, manajemen energi juga dapat membantu terwujudnya long-term success karena perusahaan dapat bersaing dengan baik dengan memberikan penawaran terbaik pada harga yang relatif murah. Sisi lain dari penerapan manajemen energi ini adalah menonjolkan peran perusahaan membantu memerangi global warming, polusi, serta hujan asam (diurut berdasarkan kepopuleran saat ini). Dengan mengkonsumsi lebih sedikit energi berarti mengurangi polusi termal dan penggunaan air pendingin, yang intinya dapat membantu meningkatkan kualitas lingkungan.

Untuk mensukseskan suatu program manajemen energi, top executive harus mewujudkan niat baik dan dukungannya bagi program ini. Prinsip TQM (Total Quality Management) yang berprinsipkan pada kewenangan front-line employees untuk melakukan perubahan dan membuat keputusan pada tingkat operasi dasar, harus mengikutsertakan energy cost control didalamnya. Bagi top executive yang masih ragu, berikut terdapat gambaran kasar bagi pihak manajemen mengenai besaran reduksi biaya energi adalah sebagai berikut :

  • Kegiatan manajemen energi dengan aktifitas yang menggunakan biaya rendah selama 1 sampai 2 tahun, akan menghasilkan reduksi sebesar 5% s/d 15%.

  • Kegiatan dengan biaya sedang dan usaha yang tekun selama 3 sampai 5 tahun, akan mengkasilkan reduksi sebesar 15% s/d 30%.

  • Kegiatan jangka panjang dengan biaya tinggi dan perencanaan yang baik akan menghasilkan reduksi sebesar 30% s/d 50%.



Seringkali kegiatan manajemen energi dianggap mengalami kebuntuan setelah dicapai pengurangan biaya energi sebesar 15%-20%. Hal ini membawa dua buah dampak buruk, yang pertama adalah tidak termotivasinya manajer energi untuk mencari upaya efisiensi, sehingga pengurangan biaya lebih dari 20% tidak akan pernah tercapai.
Pemandangan Tipikal
Dampak buruk yang berikutnya adalah anggapan bahwa penurunan biaya 20% itu merupakan akhir dari program manajemen energi. Setelah keadaan ini pada umumnya konsumsi energi akan kembali meningkat karena perilaku lama akan dijalankan kembali pada sistem operasi perusahaan.

Terdapat usulan bagi terciptanya program manajemen energi yang sukses diambil dari buku “Energy manajemen Handbook”, yakni:


  1. Mengontrol energi dari biaya konsumsi energi atau tarif perusahaan utilitas (dalam rupiah), bukan energi dari jumlah kalor yang digunakan (BTU, TR, KW).

  2. Mengontrol energi sebagai bagian dari biaya produksi bukan sebagai bagian dari manufaktur atau general overhead.

  3. Hanya mengontrol dan memonitor konsumsi energi paling utama, yakni 20% yang menyumbang 80% biaya.

  4. Menerapkan usaha yang besar yakni dengan berinvestasi pada pemasangan kontrol dan upaya lain untuk memperoleh hasil penghematan